approchez le culture de buginais "Bissu"



Bissu
Le Bissu est ordinairement nommé « le sexe transcendant » ou comme « ayant un rôle rituel ». Il n'y a pas d'explication concluante quant aux origines définitives à ce que « le sexe transcendant » les moyens

Le Bissu est quelquefois peint comme les travestis, mais ceci semble être un malentendu à une bonne partie de leur histoire et leur rôle dans la société. Pour être Bissu, l'un doit le fusible tous aspects de sexe. Dans beaucoup d'exemples que ceci signifie pour être né hermaphrodite ou un individu inter-sexuel. Apparaît là est aussi des exemples de Bissu, dans lequel le mâle ou Bissu femelle sexuellement est entièrement formé.

Le rôle inter-sexuel curieux du Bissu n'est pas exclusivement connecté à leur anatomie, mais à leur point dans la culture de Bugis, leur sexe-moins (ou tout sexe tout-entourant) l'identité et leur exposition de beaucoup de types qui ne peuvent pas être précisément alloués à n'importe quel un sexe.

Ceci est dans la preuve dans l'habit de Bissu. Le Bissu s'habille dans un type de vêtement qui n'est pas porté par aucun autre sexe et qui incorpore la « femelle » et les qualités « mâles », qui explique pourquoi Bissu ne peut pas être nommé de Travesti, ou les Fâché-Commodes, comme ils sont seulement permis de porter le vêtement qui est approprié pour leur caste de sexe donnée.

Le rôle unique que le Bissu exécute dans la culture de Bugis est associé de près au sexe de Zir le statut transcendant. Il est pensé cela, puisque ze est humain est qui reste à quelque forme d'un sexe-seuil, ze reste aussi au bord parmi les gens de batin et le zahir, l'apparent et le caché (le monde). Cette pensée correspond directement à la première idée musulmane du Khanith et le Mukhannathun est « les gardes de frontières sacrées » et à la position conventionnelle qui nombreux intersexué et transgenders a cultures musulmanes en particulier des traditionnelles, mais dans ce cas il semble être d'une première source régionale.

Le Bissu est typiquement cherché le conseil de quand une approbation particulière des pouvoirs du monde de batin est exigée. Ceci peut par exemple est la situation quand une personne de Bugis part Sulawesi pour le Hajj, le pélerinage obligatoire à Makkah. Dans cette situation que le Bissu permettra un djinn excellent pour saisir Zir et procéder comme un émissaire du batin.

Ceci n'est pas en rapport avec l'islam traditionnel, mais cet a été endurer par l'établissement musulman régional, à condition qu'il ne comprend pas d'acte qui est évidemment dans l'opposition au Shariah. Dans ce cas exceptionnel, il signifie que l'esprit et les pouvoirs de Bissu ne devraient pas être mesurés comme de quelque façon autonome du pouvoir d'Allah, parce qu'il est le seul l'un qui est être vénéré.

Dans le jour au jour vie sociale le Bissu, avec le calabai et le calalai, sont autorisé à entrer les parties des femmes des résidences et les villages en plus des hommes.
Le bissu est l’etre humain sacre selon les gens de bugis, fut jadis il y avais trop de problem que les hommes et les femmes ne peuvent pas solver le problem, alors le dieu supremme cree l’etre humain unique, qui fut different du tout ce qui a dj existe, voilà le le Dieu cree le bissu, qui a joué un role typque,


Sang Bissu Muda

Pangkajene: Masyarakat Suku Bugis mengenal lima jenis kelamin, yakni lelaki, perempuan, lelaki yang berpenampilan perempuan, perempuan berpenampilan lelaki, serta bissu. Jenis kelamin yang disebutkan terakhir berasal dari golongan waria setelah mereka mengikuti upacara mapareba.
Salah seorang bissu muda Suku Bugis adalah Muharom alias Hasna. Bissu ini merangkap sebagai dukun peramal, berbiacara dengan dewa. dan pemimpin upacara adat. Namun fungsi sebagai dukun cukup kental sehingga banyak warga sering berdatangan ke rumag seorang bissu. Warga meminta doa atau berkah termasuk solusi tentang suatu masalah.
Muharom terlahir sebagai pria, tapi prilaku sehari-harinya cenderung seperti wanita. Bahkan sejak kecil dia memelihatra rambut panjang dan berpakaian perempuan. Dia juga tak pernah sakit hati dengan julukan waria oleh orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Namun kini, sudah tak lagi yang mengejeknya karena telah menjadi bissu.
Menurut Muharom, keinginan menjadi bissu datang lewat mimpi. Dalam mimpi itu, waria berusia 17 tahun ini bertemu dengan lelaki tua yang memintanya menjadi seorang bissu. Waria berambut panjang ini menilai mimpi tersebut bukan hanya sekadar kembang tidur tapi petunjuk dari Sang Dewata yang akan mengubah garis hidupnya.
Sebelum dilantik menjadi bissu dia diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar mattinja` untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air.
Bissu dihargai oleh masyarakat Bugis karena memiliki banyak kelebihan dan pengetahuan serta menguasai seluk-beluk adat-istiadat, silsilah keluarga. Masyarakat, terutama kalangan kerajaan, meminta berbagai petunjuk, pertolongan, ataupun berobat dan berguru kepada kaum bissu.
Keberadaan bissu memang erat kaitannya dengan kerajaan. Kedudukan datu atau raja tidak sempurna tanpa kehadiran bissu. Para bissu berperan sebagai penasihat. Sebagai pelaksana dalam ritual kerajaan, bissu menentukan hari baik untuk memulai sesuatu, seperti turun ke sawah atau membangun rumah.
Saat berkomunikasi dengan Dewata atau di antara mereka, bissu menggunakan bahasa sendiri yang disebut basa torilangi (bahasa orang langit). Para bissu meyakini bahasa itu diturunkan dari langit melalui Dewata. Bahasanya memiliki kesamaan dengan bahasa yang digunakan dalam syair klasik bugis.
Setelah menjadi bissu Muharom diminta untuk menghilangkan simbol-simbol perempuan yang melekat pada dirinya. Hal ini untuk menjaga kesaktiannya dan tidak boleh memelihara nafsu terhadap lawan jenis. Simbol perempuan Muharom diganti dengan bahasa puji-pujian yang bisa mendekatkannya dengan Dewata.

Sebelum menjadi bissu, Muharom sempat jatuh hati kepada seorang lelaki. Bahkan dia pernah menyatakan perasaannya itu kepada sang pujaan. Kini nafsu itu telah hilang dalam diri Muharom karena dia telah bertekad menjadi bissu. Muharom pun saat ini sudah mendapat tempat di tengah masyarakat.

Muharom mengaku tidak sedikitpun terpikir dalam benaknya menjadi penolong banyak orang serta berbuat baik kepada siapa pun. Yang ada dipikirannya adalah kalau dirinya adalah waria. Sebagai seorang bissu, Muharom pun kerap diundang ketika acara pernikahan warga di sekitar tempat tinggalnya.
Namun karena usianya yang masih muda, Muharom masih dibimbing oleh bissu senior. Salah satu keahlian Muharom adalah merias pengantin. Warga setempat menilai hasil riasan para bissu lebih bersinar. Maklumlah, para bissu mempunyai kekuatan magis untuk memikat orang lain dikenal dengan cenning rara.
Selain merias, Muharom sudah dapat menari Maggiri. Dalam tarian ini, Muharom bergabung dengan bissu lainnya. Sambil menghentak-hentakkan kakinya di lantai papan rumah panggung, dia menusuk-nusukkan keris ke telapak tangannya. Tak hanya itu dia juga menusukkan keris ke lehernya. Tak ada luka sedikit pun, apalagi tetesan darah.
Tari spiritual kaum bissu ini yang sudah berusia ratusan tahun. Maggiri merupakan rangkaian dari prosesi upacara dalam tradisi Bugis kuno yang dilaksanakan para bissu, dan sampai hari ini masih bertahan. Kesaktian para waria Bugis itu bukan hanya terlihat saat maggiri melainkan dalam kehidupan sehari-hari.
Para bissu yang masih tersisa hingga saat ini adalah generasi terakhir pewaris tradisi Bugis klasik. Komunitas bissu sudah tercerai-berai. Jumlah dan kualitasnya pun semakin menyusut dari hari ke hari. Dan Muharom adalah bissu termuda di abad modern yang menjadi bukti hidup peradaban Bugis kuno

Mereka adalah para pria yang tidak menikah selama hidupnya. Hidup mereka dihabiskan sepenuhnya untuk mengabdi kepada Dewata dan Raja-raja di Sulsel.

Salah satu bagian penting dalam ritual pembuatan perahu pinisi adalah kehadiran bissu’. Pasalnya, bissu atau pendeta Bugis kuno ini akan berperan dalam menentukan hari baik dan hari buruk, mengatur prosesi adat, menyiapkan peralatan upacara, dan berbagai ritual lainnya yang lekat dengan masyarakat Bugis. Dalam epos La Galigo, bissu’ dianggap sebagai manusia suci, keturunan para dewa. Sehingga dalam stuktur kerajaan di Sulsel, bissu merupakan penasihat spiritual dan rohani para raja.

Saat mengunjungi Makassar, saya diajak untuk menemui Zaidi Puang Matoa, seorang pemimpin tertinggi komunitas bissu’ sewilayah Sulsel. Ia tinggal dalam komunitasnya di Desa Segeri, Kabupaten Pangkajene. Ada yang menarik ketika saya bertemu dengannya.

Gerak dan sikap yang ditunjukan Zaidi begitu lemah gemulai layaknya wanita. “Terkadang ada yang menyamakan komunitas bissu’ dengan waria,” terang Zaidi yang sudah menjadi bissu sejak usia 13 tahun. Dari segi sikap, ia memang mirip waria padahal ia lelaki tulen. Namun jangan salah, ia tidak menyukai dan tidak diperbolehkan berhubungan dengan sejenisnya dan tidak menikah selama hidupnya.

"Keputusan tidak menikah adalah untuk menjaga kesucian bissu’," kata Zaidi. Bukan apa-apa, pasalnya tidak sembarang orang bisa menjadi bissu’. Karena itu bissu’ dianggap sebagai titisan dari para dewa atau leluhur mereka.

Zaidi dan rekan-rekan bissu’ lainnya memiliki rambut panjang tergerai hingga ke punggung. “Ketika rambut ini digunting maka sakit yang kami rasakan akan luar biasa,” jelas Zaidi. Karena itu bissu’ dianggap memiliki keahlian supranatural yang alami.

Namun dalam hal agama, mereka adalah orang-orang penganut islam yang taat. “Kami melakukan sembahyang dan berpuasa layaknya muslim, dan dewata adalah sebutan kami untuk Allah,” ujar Zaidi. Sekarang menurut Zaidi, hanya tersisa sekitar 20 orang bissu’ saja di Sulsel.
Mereka kerapkali diminta untuk memimpin berbagai macam upacara adat. Seperti pembuatan perahu, pelantikan petinggi masyarakat adat maupun penyambutan tamu-tamu besar di Sulsel dan upacara-upacara adat lainnya di Sulsel.